teks berjalan

Om Swastyastu, Selamat Hari Suci galungan dan Kuningan. Selamat datang di Blog Pande Tamanbali, segala informasi tentang Warga Pande Tamanbali ada di sini, mari berbagi bersama tentang sesana ke-Pande-an, jaga selalu persaudaraan kita agar menjadi suri tauladan, ingat selalu menjalankan bhisama dan terima kasih telah berkunjung. Om Santih, Santih, santih

Rabu, 13 Januari 2016

Pande Di Zaman Modern

Om Swastyastu, selamat datang di portal warga Pande Tamanbali. Hari ini mimin akan sedikit bercerita tentang "kita". Kita yang mimin maksud tiada lain adalah Warga Pande. Siapa sieh kita? Bener gak kita seorang Pande Tulen? Apa/bagaimana sieh posisi kita di masyarakat di zaman modern ini? Masih kah kita seorang Pande?
Kayaknya kalau ini dibahas dengan literatur biar agak ilmiah bagus ya? Hemm.. tapi apalah artinya literatur kalau ini bukanlah karya ilmiah. Toh ini hanya celotehan mimin melihat posisi kita, warga Pande di zaman ini. Hanya sebuah shareing pendapat, dan semoga para pengunjung/pelawat dunia maya bisa memaklumi tanpa nantinya menuntut literatur atau sumber pasti. Dan seandainya ada yang tergelitik untuk urun rembug, jangan lupa nanti komen ajah.

Okey, mimin mulai dengan pertanyaan pertama yang sudah dipaparkan di atas.
1. Kita Warga Pande, siapa sieh kita?
Menjawab hal ini tentunya sangat gampang, kita warga Pande, ya tentunya kita seorang Pande. Tapi nanti dulu, Pande itu apa? Bukannya Pande (nomina) arti arfiahnya adalah orang yang bekerja memande/menempa besi/baja, orang yang membuat perabotan rumah tangga, orang yang membuat senjata. Tentunya tidak semua dari kita bekerja itu kan? Walaupun ada beberapa yang memang melakoninya secara turun temurun. Kebanyakan dari kita adalah seorang petani, guru, pekerja jasa, pedagang, dan lainnya. Kita tidak bekerja memande.
2. Benar gak kita Pande Tulen?
Warga Pande kini, adalah warih (enceh), keturunan. Mewarisi leluhur kita yang bekerja memande. Di mana kita mewarisi darahnya dan tetap mengaku seorang Pande untuk menghormati leluhur, walaupun pekerjaan kita bukan lagi seorang Pande. Dari segi warna (pembagian masyarakat atas dasar tugas/kewajiban) Kita mungkin sekarang adalah ksatrya karena bekerja dipemerintahan, kita juga mungkin seorang brahmana karena tlah menyucikan diri tingkat ekajati/dwijati. Kita mungkin seorang wesia karena kita berdagang, atau kita mungkin seorang sudra karena kita menjadi pelayan orang lain. Atau mungkin kita seorang sangging karena bekerja memahat.
Ya itulah kenyataannya, kita hanya warih. Keturunan yang memegang teguh kepercayaan leluhur.
3. Apa/bagaimana sieh posisi kita di masyarakat di zaman modern ini?
Kembali lagi pada bahasan poin kedua. Kita tau kita hanyalah warih, dan dari kita tidak banyak mewarisi pekerjaan memande ini. Trus, posisi kita di masyarakat seperti apa, mengaku seorang yg bernama Pande?
Perlu kita ingat, Pande di zaman dahulu adalah seorang pelayan masyarakat lho, dengan membuat senjata, perabotan rumah tangga, perlengkapan upacara, dan laainnya. Semua lapisan warna menggunakan alat dari Pande, sehingga Pande memiliki posisi yang sangat strategis dan diperlukan. Lalu di zaman modern ini, bagaimana kita menjadi Pande yang hanyalah karena warih ini? Tentunya kembali lagi pada prinsip leluhur kita. Bahwasannya, Pande adalah "Pelayan Masyarakat". Maka tugas kita selaku warih Warga Pande adalah bekerja melayani masyarakat dengan tulus guna mempermudah sebuah proses, sehingga orang yang kita layani menyatakan puas, kebutuhannya telah terpenuhi.
4. Masih kah kita seorang Pande?
Point ke-4 ini sangat menarik, dari paparan di atas, masihkah kita seorang Pande? Jawabannya tentu saja "YA". Karenaa kita mewarisi darah leluhur kita. Dan kita akan menjadi seorang Pande di zaman modern dengan menjadi pelayan masyarakat yang baik.
Okey, segitu dulu shareingnya, ingat kalau ada masukan langsung komen ya... dhadha.... :-* (pkj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, asal yang positif dan membangun! Terima kasih ^_^ Sampunang ngraos kasar-kasar ring komentar ngih. Suksma.